Pembagian Rapor SD di Sydney

“Yay! Liburan sekolah tlah tiba. Saatnya kita bergembira sepuasnya.”

*****

Sepenggal kalimat di atas benar-benar cocok buat Rere, putri kecil saya. Setiap kali liburan sekolah tiba, dia senangnya bukan main. Kenapa? Karena yang namanya “liburan” berarti dia tidak perlu sekolah dari jam 8.30 pagi hingga jam 3.30 sore setiap harinya. Tidak perlu capek2 bikin PR yang banyak (errr… banyak di sini maksudnya masih jauh lebih sedikit dan tidak ada apa2nya dibandingkan dengan kuantitas PR anak2 sekolah di Indonesia tercinta). Dan tentunya mempunyai waktu bermain yang lebih banyak dari biasanya.

Nah, kemaren adalah hari terakhir term (cawu) 2 di sekolah Rere, yang berlokasi di kota Sydney, negara bagian New South Wales (NSW) Australia. Yang mestinya juga merupakan hari terakhir term 2 di sekolah2 lain yang berada di negara bagian yang sama. Ya, di Australia sini, School Term Dates ditetapkan oleh Departemen Pendidikan (Department of Education and Training) setiap negara bagian. Sifatnya juga mengikat sekolah2 yang berada di negara bagian tersebut. *Biasanya, School Term Dates diumumkan ke publik paling tidak 2 tahun sebelumnya. Positifnya tentu orang tua jadi bisa planning liburan dan berbagai macam hal dari jauh2 hari sebelumnya. Negatifnya mungkin hanya buat para ayah yang dibikin pusing oleh proposal “liburan” istri dan anak2nya. Hehehe… O ya, pengumuman masa sekolah dan liburan sekolah ini bisa dilihat di websitenya DET atau di media informasi lainnya.*

Seperti biasanya, hari terakhir term 2 juga berfungsi sekaligus sebagai hari pembagian rapor murid2 sekolah. Walau sekolah2 di sini menganut sistem term/cawu, tapi rapor tertulis hanya diberikan sekolah per 2 term, tidak setiap term. Dan rapor formal ini biasanya diberikan di term 2 dan term 4 saja. Kalau “rapor” informal sih bisa kapan saja. Setiap orang tua di sekolah anak saya bebas membuat appointment face to face meeting dengan guru kelas atau kepala sekolahnya. Bahkan obrolan singkat di pagi hari sebelum sekolah mulai atau di sore hari ketika sekolah usai juga tak jarang dilakukan orang tua, termasuk saya. Dari pengalaman saya selama ini, guru2nya selalu meladeni dengan baik. Selain itu email dan contact number guru2 dan kepala sekolah juga tertulis dimana2. Sehingga untuk orang tua yang bekerja, media komunikasi digital ini dapat menjadi alternatif lain untuk mentrace rapor/progress anak2nya.

Nah, kembali pada pembagian rapor. Kemaren saya dan suami diundang datang ke sekolah anak kami dalam suatu acara penerimaan rapor yang di-organized oleh sekolah. Parent-Teacher Interview namanya. Dalam parent-teacher interview ini, setiap orang tua diberikan slot waktu 10 menit (toleransi 5-10 menit) untuk bertemu guru2 anaknya dan mendiskusikan berbagai macam hal terkait si anak. Slot waktu yang diberikan disesuaikan dengan availability orang tua, yang diperoleh sekolah melalui formulir parent-teacher interview yang harus diisi orang tua, dan kemudian dikonfirmasi oleh sekolah. Sehingga setiap orang tua, dipastikan mendapatkan haknya untuk mendiskusikan progress anaknya dengan guru2nya. Interview ini sifatnya private, yaitu ONE (teacher) to ONE (parent) private discussion.

Lalu, apa saja yang biasanya dibicarakan dalam parent-teacher interview ini? Jawabnya: apaaaa saja, misalnya progress si anak dalam 2 term terakhir, achievement2 dan kelebihannya, kekurangan anak yang perlu dipoles, issue2 terkait anak (jika ada), rapornya beserta justifikasi guru atas nilai yang ditulis di situ, sosialisasi anak di sekolah (e.g. teman2nya), plan gurunya untuk term berikutnya, dsbnya. Karena putri saya bersekolah di sekolah Islam, jadilah dalam setiap kali terima rapor, ada 4 guru yang harus saya dan suami temui: (1) guru kelas, (2) guru bahasa Arab, (3) guru Islamic Studies, dan (4) guru Al-Quran. Masing2nya dengan alokasi waktu 10 hingga 20 menit.

Seperti apakah rapor anak SD di Sydney? Yang jelas sangat berbeda dengan rapor saya ketika SD dulu. Mata pelajarannya ada 5: (1) Bahasa Inggris (English); (2) Matematika (Mathematics); (3) IPA (kalau di sini namanya: Science and Technology); (4) Olahraga (PD/Health & PE); (5) Kesenian (Creative Arts). Untuk setiap mata pelajaran, nilainya bukan dalam bentuk angka, melainkan huruf seperti waktu saya kuliah dulu. Nilai A untuk outstanding achivement; dan E untuk poor achievement. Trus untuk setiap mata pelajaran juga ada comment yang ditulis gurunya yang menjelaskan bagaimana si anak di mata pelajaran tersebut. Sebagai contoh, anak saya mendapatkan nilai C untuk olahraga *memang nggak bakat sport, sama persis seperti orang tuanya*, dan comment gurunya adalah “Amare is a quite reserved student. However she needs to be more pro-active in order to increase her class participation in the areas of sport.” Sementara untuk mathematics nya yang dapat A, comment gurunya adalah “Amare has extensive knowledge and understanding of the content covered. She is highly competent in adding, subtracting, multiplying, and dividing 3 digit numbers. She proficiently organizes and collects data and is able to draw relevant graph based on the data. Amare is capable of accurately selecting appropriate strategies to solve problems. Well done Amare.” Dan yang perlu dicatat juga, sekolah2 di sini tidak mengenal sistem ranking. Sehingga tidak ada embel2 anak ranking berapa tertulis di rapornya.

Buat saya orang tua, yang paling penting bukanlah nilai akhir yang diperoleh anak saya di sekolahnya. Apalagi dibandingkan pula dengan nilai anak2 lain di kelasnya, yang ketika saya di SD dulu direpresentasikan sebagai nilai rata2 kelas dan ranking. Bagaimana anak saya berprogress dari waktu ke waktu, dari term ke term, dari kelas ke tingkatan kelas berikutnya, jauh lebih penting daripada sekedar nilai angka. Makanya saya heran, ketika tahun lalu saya sempat ikut ke sekolah SD ponakan saya di daerah Jakarta Selatan sana, ada ibu2 yang sampai ngotot ke guru kelasnya minta nilai anaknya dinaikkan hanya gara2 selisih 1 angka. Apalah arti angka…..

Nah, sekarang liburan tlah tiba. Seperti halnya term 1, dan term 3, liburan sekolah term 2 ini lamanya 2 minggu. *Kalau di term 4 yang juga merupakan libur kenaikan kelas, lama liburnya 6 minggu, biasanya dimulai pada minggu ketiga Desember dan berakhir pada akhir Januari atau awal bulan Februari tahun berikutnya.* Trus, apa saja yang bisa dilakukan untuk mengisi liburan sekolah di Sydney sini? Ada banyaaaaaak banget activities tentunya. Mulai dari yang diorganized pemerintah hingga yang diorganized swasta dan sekolah. Mulai dari yang gratisan hingga yang bayar. Bahkan, mulai dari library dekat rumah hingga museum2 di pusat kota juga telah menyiapkan acara2 khusus selama liburan sekolah. Mau tau apa saja diantaranya? Silakan simak tulisan berikutnya.

Cheers,
~MAIRIZA~

2 responses to this post.

  1. Posted by novi on March 20, 2014 at 5:12 am

    Haii mairiza salam kenal, thanks yaa infonya sangat membantu utk saya yg insyaallah thn ini akan membawa anak2 tinggal di sydney. Sedikit khawatir ada di benak saya . .Apa anak2 akan betah dan bagaimana di sekolah yg baru yaaa biasa lah yg namanya ibu banyak yg di khawatirkan. .tapi info dari mairiza ini cukup bisa menenangkan hati dan pikiran saya🙂

    Reply

    • Posted by mairiza on June 18, 2014 at 5:59 pm

      Salam kenal juga mbak. Iya mbak, emak2 memang begitu. Adaa saja yang dikhawatirkan. Namanya juga sayang anak.
      Semoga anak2 betah ya mbak.

      Salam

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: