Berkunjung ke Campsie Library, City of Canterbury

Campsie Library.


Pintu Masuk Campsie Library

Dibandingkan dengan perpustakaan lain yang ada di Sydney, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari perpustakaan Campsie ini. Arsitektur bangunannya biasa saja. Koleksinya pun juga sama dengan local library lainnya. Demikian pula dengan fasilitas2 yang ada di dalamnya. Tapi justru, sebagai representasi dari local library yang ada di suburb2 Sydney inilah, maka dalam tulisan kali ini saya ingin mengulas sedikit mengenai Campsie library. Tujuannya tak lain dan tak bukan supaya kita semua bisa mendapatkan gambaran kira2 seperti apakah perpustakaan daerah yang tersebar di setiap suburb seantero Sydney. *Suburb bisa dianggap setara dengan kecamatan di Indonesia. Dan City bisa disetarakan dengan kotamadya. Suburb Campsie merupakan bagian dari City of Canterbury. Umumnya, tiap suburb memiliki sebuah local library yang namanya mengikuti nama suburb ybs*

Sama halnya dengan local library sejenis di Sydney, library Campsie dimiliki dan dikelola oleh pemerintah Australia melalui city council setempat (City of Canterbury). Namun karena lokasinya yang sangat dekat dengan rumah saya, jadilah Campsie library sebagai library yang paling sering saya kunjungi. Hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit, saya sudah dapat membawa si kecil memilah-milih buku yang ingin dibacanya, atau sekedar bercengkrama dengan anak2 lain sesama pengunjung perpustakaan.

Campsie library terletak di gedung Campsie Center, yang merupakan satu2nya pusat perbelanjaan di suburb Campsie. Bisa dibilang Campsie Center adalah mall satu2nya penduduk Campsie. *Tapi jangan dibayangkan mall-nya seperti mal Pondok Indah. Apalagi Taman Anggrek. Campsie Center palingan setara dengan sepertiga ukurannya mal Depok. Seperberapanya Mal Taman Anggrek itu ya?😉 * Library ini tidaklah luas, tidak pula bertingkat, dan tidak pula seluas perpustakaan barunya Universitas Indonesia. Kalau menurut hitung2an kasar saya, library Campsie mungkin hanya sepersepuluhnya ukuran perpustakaan UI. Namun demikian, library ini buka tiap hari dari jam 10 pagi hingga jam 8 malam, termasuk hari Sabtu dan Minggu.


Salah Satu Ruang Terbuka di Dalam Library

Kecil2 cabe rawit….Walaupun kecil, tapi fasilitasnya Ok punya”, itulah library Campsie ;-)  Ada banyak rak yang memuat koleksi2 library, yang bisa diakses langsung oleh semua pengunjung. Ada beberapa ruangan terbuka untuk umum, yang dilengkapi meja dan kursi2 belajar. *Di tempat ini saya sering melihat anak2 sekolahan mengerjakan PR mereka* Ada pula “Quiet Room”, yaitu ruangan tertutup kedap suara, yang siapapun berada di dalamnya diminta untuk menjaga ketenangan alias tidak berisik sama sekali. Termasuk telpon genggam pun harus diset silent bila ingin masuk ke ruangan ini. Cocok deh buat tempat bertapanya para pemikir. Hehehe….. *Nah, saya paling sering belajar di ruangan ini* Selain itu terdapat pula ruang baca yang dilengkapi dengan sofa2 yang empuk. Pas banget buat orang tua leyeh2 sambil menikmati berita di koran hari ini. Ada pula ruang “cinema”, dimana anak2 biasa menonton film bersama. Trus di semua sudut ruangan juga tersedia beberapa set komputer yang terhubung ke internet dan katalog perpustakaan. Beberapa komputer di daerah “Kids Zone” bahkan juga dilengkapi dengan beraneka ragam computer games. Selain itu ada pula fasilitas Wi-Fi yang memudahkan pengunjung mengakses internet dimana saja. Dan yang tak kalah pentingnya adalah adanya AC dan heater yang dapat mendinginkan badan di kala musim panas tiba atau menghangatkan badan di kala musim dingin tiba.


Sebagian Kecil Koleksi Buku Non-Fiksi Anak2

Sebagai local library, koleksi buku2 di Campsie library ini sangat beragam dan cukup lengkap. Mulai dari buku dan novel anak2, novel2 dan majalah dewasa, berbagai macam koran dan tabloid, buku2 dari berbagai cabang ilmu pengetahuan e.g. Komputer, Psikologi, Ekonomi dan Bisnis, Geografi dan Kesehatan, serta beraneka koleksi Multimedia seperti: CD Audio, VCD, DVD, Kaset Video, dan Piringan hitam dari jaman perang dunia dulu. Dengan database koleksi yang terintegrasi, pengunjung library juga bisa me-request buku atau koleksi tertentu yang berada di library yang lain.

Lalu, kenapa anak2 juga betah di library? Rupanya karena mereka memiliki “kids zone” tersendiri. Dimana disediakan rak2 yang semua buku2nya adalah buku anak2, ruang bermain dan membaca yang dipenuhi aneka bunga dan gambar hewan berwarna-warni, komputer2 dengan berbagai macam games interaktif, dan juga acara2 yang dikemas untuk anak2 berbagai usia, seperti story telling, meet the author, drama, dan beraneka macam kids games lainnya. Kalau dalam masa liburan sekolah seperti saat ini, ada banyak acara spesial yang dikemas dalam “School holiday for Kids”, seperti nonton film bersama, art & craft projects, menari bersama, berbagai jenis perlombaan, dllnya. Dan semuanya tanpa dipungut bayaran sama sekali, alias gratis untuk semua pengunjung library. Syaratnya, ya harus daftar dulu. Selain itu, juga ada fasilitas gratis “Onsite Tutoring” dan “Online Tutoring” untuk anak2 SD dan High School di sini. Maksudnya ada beberapa orang tutor resmi yang dapat ditanya kapan saja (dalam Online Tutoring) oleh anak2 yang mengalami kesulitan mengerjakan PR sekolahnya. Atau tinggal datang ke library di jam2 tertentu untuk bisa mendapatkan bimbingan gratis dari “Onsite Tutor”. Sehingga tidaklah mengherankan bila anak2 di sini sangat dekat dengan yang namanya library. Kalau untuk orang tua, fasilitasnya apa saja dong? Hmm…. Yang saya tahu sih ada kursus bahasa Inggris dan kursus komputer. Tapi ini nggak gratis alias bayar, dan sangat murah. Trus juga ada fasilitas legalisir dokumen oleh certified JP (semacam lawyer di Indo).

Terus terang, Campsie library telah mengubah cara pandang saya dan keluarga terhadap library. Di awal kedatangan kami ke Sydney sini, kami tak terlalu berminat untuk mengunjungi lokal library, walaupun lokasinya tak jauh dari rumah dan minimal setiap minggu pasti kami lewati ketika hendak berbelanja di pusat pertokoan di Campsie. Mungkin karena tak terbiasa dan juga tak membudaya ketika kami tinggal di Indonesia dulu. Tapi begitu kami mencoba masuk ke dalamnya, berbaur dengan koleksi2nya, mengikuti berbagai kegiatan dan program2nya, sekarang bisa dibilang kalau library telah menjadi bagian hidup kami. “Rasanya ada yang kurang kalau belum ke library”. Apalagi Rere putri kami. Paling tidak, dia perlu melahap 3 – 5 novel setiap minggunya. Mana mungkin emak bapaknya sanggup membelikannya 5 novel baru setiap minggu? Mana di Australia sini, harga buku sangatlah mahal. Benar2 mahal. Sementara buku2 itu (terutama buku cerita anak2), biasanya hanya dibeli untuk dibaca sekali, lalu berlanjut menjadi koleksi, dan lama2 jadi memenuhi isi lemari. Nah, mumpung koleksi library ini sangatlah beragam, bagus2 dan baru2, kenapa kami harus memaksakan membeli? Bukankah lebih baik meminjam dulu, lalu dibaca? Bila ternyata di kemudian hari tergila2, baru deh dibeli, dikoleksi, untuk kemudian bisa dibaca lagi. Betul kan? *Prinsip “penghematan” yang telah kami terapkan dalam beberapa tahun terakhir🙂 *


Hasil Kunjungan Hari Ini: Novel Pilihan untuk Anak2

Cheers,
~MAIRIZA~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: